Kepribadian Pemimpin

Salahudin Al Ayubi

Manusia di permukaan bumi ini adalah untuk menunaikan amanah dan kewajiban. Diantara amanah dan kewajiban itu ialah melaksanakan tugas kepemimpinan. Sesuai dengan fitrahnya, manusia tidak dapat hidup sendiri, baik dalam masyarakat kecil ataupun masyarakat besar tetap memerlukan sosok seorang pemimpin. Hal demikian pernah terjadi dialog antara Allah SWT dengan malaikat dan Iblis, ketika Allah SWT mengangkat Adam As sebagai Khalifah fil Ardhi.
Sudah merupakan undang-undang atau merupakan sunatullah, bahwa manusia sebagai kelompok dalam masyarakat memerlukan pemimpin. Kita mengenal pemimpin rumah tangga, pemimpin organisasi, pemimpin negara dalam suatu wilayah tertentu.
Dalam hal kepemimpinan Allah SWT pernah menawarkan amanat itu kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi seluruhnya menyatakan tidak mampu memikul kewajiban amanah itu, dan menyatakan kepada Allah SWT agar dilepaskan dari tanggung jawab memikul beban dan amanah itu. Kemudian manusia tampil ke depan menyatakan kesanggupannya melaksanakan amanah tersebut. Tugas dan kewajiban melaksanakan amanah itu sesungguhunya adalah untuk menegakkan perintah untuk mengajak yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Diantaranya adalah mengelola alam dengan baik dan tidak mengeksploitasinya.
Pemimpin menurut definisi ilmu manajemen adalah Kepala atau Manager, seorang yang mempunyai tugas merancang untuk mencapai kesuksesan akhir yang optimal. Seorang pemimpin harus mempunyai keikhlasan dan kemampuan untuk bertindak, yakni yang mampu melaksanakan tugasnya sampai tuntas dengan baik dan tertib dalam kelompok atau organisasi yang dipimpinnya. Dengan kata lain seorang pemimpin juga harus kreatif, cerdas, dan berani mengambil keputusan yang ditopang dengan kearifannya, mampu menggerakkan dan mengarahkan anggotanya (staf, bawahan), dan peka terhdap realitas social, politik, ekonomi, dan budaya. Seorang pemimpin diharapkan dapat menghasilkan kinerja manajemen publik yang positif, sama sekali bukan metafora kata-kata. Kepribadiannya memberikan teladan di tengah-tengah yang dipimpinnya, memelopori kesediaan berkorban dalam ucapan dan perbuatan, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan puteranya Nabi Ismail AS. Antara pemimpin dan yang dipimpinnya hendaknya mempunyai jalinan ikatan yang sangat kuat, antara satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, baik moril maupun materil.
Masalah kepemimpinan akhir-akhir ini dirisaukan karena menurunnya nilai-nilai kemanusiaan, dekadensi moral, harga diri manusia, bahkan martabat kebesaran suatu bangsa. Mementingkan diri sendiri atau golongan, nafsu memiliki sesuatu yang bukan haknya (korupsi) dianggap sebagai hal yang lumrah sehingga tumbuh subur dan merajalela. Tidak hanya seorang pegawai biasa dari suatu kantor yang diseret ke meja hijau, tetapi seorang walikota, bupati bahkan gubernur pun banyak yang tergerus. Ini adalah satu bentuk indikasi krisis kepemimpinan dan krisi kewibawaan.
Sedangkan kepemimpinan menurut ajaran Islam, tampil dalam bentuk wujud Firman Allah SWT: “Kamu adalah Umat yang terbaik dan terampil di tengah-tengah manusia dengan tugas menegakkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar” (Ali-Imran : 110), dan suri teladan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, cara terbaik bagi para pemimpin masa kini, adalah dengan mempelajari keberhasilan Rasulullah SAW dalam mengemban amanah dan menyampaikan risalah dengan hasil kemenangan yang sangat sukses. Lalu dimanakah letak kesuksesan dan keberhasilan Rasulullah SAW itu?
Rahasia kesuksesan dan keberhasilan Rasulullah SAW itu, terletak pada kepribadiannya yang utuh, ucapannya yang benar, ucapan yang diimplementasikan dalam perilaku dan perbuatan yang nyata dan istiqomah / konsekuen. Sifat-sifat Rasulullah SAW yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut, yaitu:
1.Shiddiq (Jujur)
2.Amanah (Terpercaya)
3.Fatonah (Pintar)
4.Tabligh (Menyampaikan)
Keempat sifat tersebut adalahsifat-sifat mutlak yang dimiliki oleh Rasul Allah, untuk membuktikan wahyu ilahi, untuk memberikan hujjahnya. Oleh karena itu, marilah kita coba merenungkan secara mendalam masalah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang sungguh amat hebat, beliau seorang pemimpin yang memiliki sifat terpuji, memiliki keikhlasan bekerja. Tanpa menuntut haknya kepada Alah SWT, maupun kepada sahabat-sahabatnya dan umat pendukungnya, tetapi lebih mengutamakan menjalankan kewajiban dengan ikhlas dan jujur.

Published in: on 5 April 2009 at 1:36 am  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.